Jakarta, CNBC Indonesia - Laju impresif batu bara akhirnya terhenti di pekan ini. Tidak sekedar terhenti, harga batu bara bahkan ambrol parah. Penguatan tajam harga batu bara di tahun ini yang mencapai 230%, ditambah dengan langkah China "mendinginkan" batu bara memicu aksi profit taking masif, hingga harganya ambrol.

Melansir data Refinitiv, harga baru bara acuan Ice Newcastle Australia untuk kontrak bulan November ambrol nyaris 21% di pekan ini ke US$ 191/ton. Sebelumnya batu bara mencapai rekor tertinggi sepanjang masa US$ 270/ton pada 5 Oktober lalu. Jika dilihat dari rekor tersebut, batu bara sudah jeblok nyaris 30%.

 

batu

Melihat pergerakan tersebut, trader kini mengambil sikap wait and see, sebab penurunan harga akibat intervensi pemerintah China, tetapi kondisi kondisi suplai yang ketat dan permintaan yang tinggi masih belum mengalami perubahan.

"Harga batu bara jeblok karena intervensi pemerintah China, tetapi bukan berarti ada perubahan yang berarti dari kondisi supply-demand," kata trader yang berbasis di Shaanxi China, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (23/10/2021).

Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional China pada Selasa lalu mengungkapkan tengah mempelajari langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mengintervensi harga batu bara. Mereka akan melakukan segala upaya agar harga kembali ke kisaran yang masuk akal.

Batu bara adalah komoditas strategis bagi China, karena sekitar 60% pembangkit listrik di sana menggunakan tenaga batu bara. Tingginya harga batu bara membuat perusahaan listrik kelimpungan karena di sisi lain permintaan juga sangat tinggi. So, wajar pemerintah China punya kepentingan untuk menekan harga batu bara.

Pemerintah China sudah memberikan persetujuan bagi 153 penambang untuk meningkatkan produksi. Alhasil, di pekan ini tingkat produksi naik 4% per hari dibandingkan bulan lalu menjadi 11,6 juta ton.

Akan tetapi, sejumlah pihak tidak yakin upaya pemerintah China untuk mengontrol harga batu bara akan membuahkan hasil. Pasalnya, kenaikan harga batu bara adalah masalah dunia, bukan di China saja.

"Intervensi pemerintah bagai sedikit guyuran air ke api besar yang membara. Inti dari masalah ini adalah keterbatasan pasokan energi karena bumi belahan utara (northern hemisphere) akan segera memasuki musim dingin. Butuh waktu berbulan-bulan agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan kembali seimbang," terang Frederic Neumann, Co-Head Asian Economic Research di HSBC, sebagaimana diwartakan Reuters.

Masalah supply-demand diprediksi bisa semakin parah di bulan November, sebab China akan memasuki musim dingin.

"Tantangan sebenarnya untuk supply akan terlihat setelah pertengahan November, sebab permintaan harian untuk pembangkit listrik akan meningkat, sementara operasi pertambangan dan transportasi akan melambat karena memasuki musim dingin," kata trader dari salah satu perusahaan pembangkit listrik di China yang tidak ingin dipublikasikan namanya, sebagaimana dilansir Reuters.

TIM RISET CNBC INDONESIA .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *