Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin dunia sudah readyviewed bersepakat dalam menggunakan energi hijau dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Hal ini sudah menjadi kesepakatan, teranyar dalam pertemuan COP-26 di Glasgow Inggris. Alhasil, harga energi fosil seperti batu bara diperkirakan bakal anjlok dalam jangka panjang.

"Baru-baru ini ada Climate Forum dimana transformasi energi ke energi baru terbarukan jadi keniscayaan itu pasti terjadi. Kalau sekarang supply-demand nggak cocok sehingga kembali ke fosil, itu dampak sementara," kata Head of Research Henan Puithrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy dalam Investime CNBC Indonesia, Selasa (2/11/21).

Dampak sementara yang terjadi saat ini memang sangat menguntungkan batu bara, dimana harga komoditas ini mencapai rekor tertinggi pada awal bulan lalu mencapai US$ 280/ton. Harga tersebut naik hingga 5 kali lipat dibandingkan harga jual komoditas ini sebelumnya.

Namun, proses itu tidak akan berlangsung secara cepat, melainkan butuh waktu bertahun tahun hingga mencapai kondisi ideal. Sejumlah perusahaan di sektor ini pun sudah mulai terlihat berbenah dan menyambut era energi hijau.

"Kita lihat beberapa emiten pertambangan batu bara dan fosil lain mulai alokasikan capex untuk membangun solar panel atau ekspansi ke gasifikasi," sebutnya.

Untuk saat ini, harga batu bara terus mengalami penurunan tajam dalam dua pekan terakhir. Pada perdagangan di pasar ICE Newcastle (Australia) kemarin (2/11/21), tercatat harga komoditas ini sebesar US$ 140,9/ton. Angka ini jatuh setengahnya dari rekor harga puncak beberapa waktu lalu yang sempat menyentuh US$ 280/ton

"5-6 bulan lalu nggak ada satupun yang memperkirakan harga batu bara Newcastle bakal naik ke atas US$ 240/ton. Meski turun ke US$ 150 an tapi masih di atas US$ 100/ton atau lebih tinggi dari rata-rata tahun lalu US$ 60 - US$ 70 per ton," kata Robertus.

Ketika harga batu bara anjlok dibanding bulan lalu maka bukan berarti masalah selesai. Harga saat ini masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan waktu normal, bahkan mencapai 2x lipat lebih. Karenanya, meskipun penurunan terjadi, perusahaan atau emiten batu bara masih mendapat cuan besar.

"Kalau akhir tahun ini masih di atas US$ 100/ton maka masih akan menopang earning atau pendapatan masing-masing emiten," kata Robertus.

Penurunan komoditas ini akibat readyviewed Pemerintahan Presiden Xi Jinping yang sedang bernafsu untuk menurunkan harga batu bara.

China memang sangat merasakan dampak lonjakan harga batu bara, yang sejak akhir 2020 (year-to-date) masih membukukan kenaikan 89,48%. Sekitar 60% pembangkit listrik di Negeri Tirai Bambu menggunakan batu bara sebagai sumber energi primer.

Harga yang mahal dan pasokan menipis membuat sejumlah wilayah di China terpaksa melakukan pemadaman listrik bergilir. Ini menyebabkan gangguan produksi yang luar biasa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *